Shutter Island

Shutter Island

Dua orang U.S Marshall, Teddy Daniels(Leonardo DiCaprio) dan Chuck Aule(Mark Ruffalo) ditugaskan untuk menyelidiki kasus hilangnya seorang pasien, Rachel Solando(Emily Mortimer), yang dirawat di penjara Ashecliffe yang terletak di sebuah pulau terpencil, Shutter Island. Uniknya penjara ini berisi para pelaku kriminal yang mengalami gangguan jiwa sehingga tidaklah mudah bagi Teddy dan Chuck untuk menginvestigasi kasus yang tampak ganjil tersebut. Ditambah lagi para staf penjara, walaupun mereka bilang akan membantu, sangat tertutup dan seolah-olah menghambat ruang gerak duet detektif itu.

Seiring dengan berkembangnya penyelidikan, Teddy, yang punya masa lalu kelam, mulai mengalami halusinasi-halusinasi aneh tentang istrinya yang telah mati, Dolores Chanal(Michelle Williams). Dimana Dolores terus mengingatkan Teddy tentang kematiannya dan bahwa sang pembunuh berada di penjara ini. Suasana semakin mencekam ketika badai besar menghantam dan menyebabkan Shutter Island benar-benar terisolasi.

Nama besar Leonardo DiCaprio dan Martin Scorsese setidaknya bisa menjadi jaminan akan kualitas film ini, sebuah thriller psikologis yang mengingatkan kita akan film-film sang Master of Suspense, Alfred Hithcock. Di tangan Scorsese, Shutter Island mampu menampilkan kesan misteri yang sangat kuat, penonton akan sulit untuk mengerti apa yang sebenarnya terjadi dan akan tertarik untuk ‘masuk’ ke dalam karakter Teddy dan mencari berbagai petunjuk untuk menguak misteri tersebut. Scorsese juga menggunakan badai, kabut, dan cuaca yang buruk dalam arti sebenarnya maupun metafor sebagai simbol keterpencilan, kesulitan, dan misteri. Leonardo DiCaprio adalah salah satu aktor yang mampu lepas dari imej Pretty Boy nya dan berkembang menjadi aktor watak dengan kualitas akting yang terpercaya, di film ini ia kembali menunjukkan kelasnya, karakter Teddy yang keras, terobsesi, ketakutan, dan dipenuhi oleh ketidakpastian berhasil ia munculkan dengan baik.


Sayangnya dengan semua keunggulan tersebut, bisa dibilang saya cukup kecewa dengan film ini. Dengan tingginya rating di IMDb, beberapa review positif dari teman-teman blogger, nama besar Scorsese dan DiCaprio, dan fakta bahwa saya adalah penggemar twist, wajarlah jika ekspektasi-meter saya terhadap Shutter Island sudah naik duluan. Nah, untuk membahas kekecewaan saya, perlu saya bahas tentang alur dan twist itu sendiri, so, SPOILER below.

Saya menganggap satu-satunya jualan Shutter Island, selain nama sutradara dan bintang utamanya, adalah twist. Ya, twist ini memutarbalikkan seluruh film dan mampu membuat penonton tercengang heran, ditambah dengan ending yang cukup nggantung, wajar jika banyak yang meninggalkan bioskop dengan kekecewaan apalagi kalo mereka tidak memperhatikan film sejak awal. Saya kecewa bukan karena ga dong sama ceritanya, tapi memang karena ceritanya seakan hilang termakan twist nya sendiri.


Seperti yang saya bilang sebelumnya, penonton akan cenderung untuk ‘masuk’ dalam karakter Teddy dan bersama menguak misteri hilangnya pasien Ashecliffe. Kemudian Teddy melacak temannya George Noyce(Jackie Earle Haley) yang dipenjara. George mengatakan bahwa ia akan menjadi korban eksperimen cuci otak, dan kemudian Teddy juga menemukan Rachel, sang pasien hilang. Rachel menambahkan bahwa ada konspirasi besar di Ashecliffe dan bahwa Teddy sengaja dikurung di Shutter Island. Dari sini penonton yang sudah nyaman dengan asumsi Teddy bahwa “Ya, ada yang salah dengan penjara ini” akan ditipu habis-habisan. Ternyata tidak ada eksperimen otak, tidak ada penyiksaan manusia, tidak ada pasien yang hilang; ternyata Teddy bukanlah Marshall, dia lah pasien ke-67.


Memang Scorsese memberikan penjelasan yang cukup baik dan masuk akal tentang twist nya, tapi tetap saja seolah tensi ketegangan cerita dan ide-ide tentang Marshall, eksperimen manusia, Nazi, konspirasi Ashcliffe, dll yang disusun dengan sangat baik dan rapi, runtuh begitu saja, hampa. Sayangnya, buat saya alur tersebut malah lebih menarik daripada fakta bahwa itu semua adalah rekaan Teddy. Bahkan jika dipikir2, untuk apa ada scene-scene tentang Teddy sebagai prajurit U.S. yang menembak mati para Nazi?

Bottom line, Shutter Island bukan film yang konklusinya bisa diterima setiap orang, dan ternyata penilaian akhir anda sangat mungkin akan berbeda dengan rating IMDb atau review-review yang anda baca. Try to watch it for second time for better understanding.

My Rating: 7/10

~ by swindleroz on April 29, 2010.

11 Responses to “Shutter Island”

  1. pertamax gan. nice review.. gue sependapat juga ma lu, terlalu berharap bahwa memang bakalan ada ‘something’ or misteri yg terkuak dari shutter island, tp nyatanya ngga ada.. ‘____’ apalagi cara endingnya itu film, bner2 ga keduga bos!
    lucunya, ada tmen gue yg mpe mau ngompol kaga brani ke toilet coz bingung mana pintu kluar teaterny.. wakakakaka..
    keep movin’ boys

    • Hahaha ternyata misteri yg terkuak itu dari Teddy nya ya. Sip thanks.
      btw emg pintu keluarnya ada berapa?

  2. wah, reviewnya agak berbau negatif ya, emang masalah selera kok, banyak juga temenku yang merasa ditipu,hahahha
    well, tentang part teddy as prajurit, dia kan emang mantan army in real life tapi gak bener2 menghadapi Nazi seperti dalam khalayannya itu, cmiiw,dia dibagian administrasinya kan?
    setelah selesai bertugas,dia pulang kerumah tapi gak peduli sama keluarganya,biasalah, syndrome prajurit paska perang, that’s why Rachel jd depresi juga…
    Cerita rekaan Teddy memang lebih seru sih, tapi endingnya sempurna kok,I love that ending :D

    • Hehe iya nih, masalah selera tentang twistnya aja sih :)
      nah kalo ga bener2 menghadapi Nazi menurutku ga terlalu perlu diulang2 dalam scene, jadi meningkatkan harapan penonton untuk liat hubungan Nazi sama Ashecliffe misalnya. Tapi iya Teddy emang orang army, idk di bagian administrasinya bukan :(

  3. setelah second time watched it,
    kayaknya kok malah lebih kecewa yo ? hahaha

    oya, kmaren barusan liat in to the wild (keren gilak!) setuju dah!

    nice review,thanks

    • oya? Harusnya mungkin second time ngeliatin dari sisi twistnya jadi lebih asik hehe. Yeah Into The Wild emang bagus :)

  4. gw setuju, ini film emank cuma jualan twist…. ga ada dasar cerita yg kuat (terlepas dari uda diceritain di background nya mengapa dia bisa schizophrenia) dan menurut gw, setelah setengah film, uda mulai kebaca arah nya kemana

    cuma gw lumayan suka penggambaran suasana mental hospital nya (walaupun sebenernya ga selebai itu seh….)

    • Iya makanya habis film rampung aku jadi mikir kalo jualannya twist doang nih dari segi cerita.

  5. Hi,..
    Shutter Island is my top pick so far thiz year..
    I already wrote in my review on Feb 2010.. Please see it :)

    Please visit to my blog too,..

    http://jonnyfendi.blogspot.com

    Keep up the good work..

  6. doh, maap kalo oot dit
    aku nyari review into the wild nih
    aku liat ada bannernya di sidebar kamu
    ada?

    • waduh belum bikin nih dod, udah lamaa sih nonton itu sebelum bikin blog :( bagus kok filmnya tapi, recommended.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: